Mataram, 30 September 2025 – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat terus memperkuat langkah strategis dalam membangun ekosistem industri agromaritim sebagai bagian dari visi Gubernur dan Wakil Gubernur NTB. Program agromaritim ini menjadi agenda prioritas RPJMD 2025–2029 dengan tujuan
meningkatkan produktivitas sektor pertanian, kelautan, dan peternakan,
menekan angka kemiskinan melalui industrialisasi pedesaan,
memperkuat ketahanan pangan,
serta membangun sentra agroindustri berdaya saing ekspor.
Agromaritim NTB bukan sekadar komoditas, tetapi jalan untuk menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, dan mengangkat kesejahteraan masyarakat NTB hingga mendunia. Sebagai langkah implementasi, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB Hj. Nuryanti, SE., ME., didampingi tim, melaksanakan rapat pembahasan ekosistem industri agromaritim bersama Kepala Bappeda NTB di ruang rapat Bappeda NTB.
Kepala Bappeda NTB menegaskan bahwa sektor agromaritim harus menjadi penopang utama pembangunan lima tahun ke depan. “Peran Dinas Perindustrian akan sangat menonjol. Kita berharap agromaritim ini menjadi motor kemakmuran, mengurangi kemiskinan, meningkatkan produktivitas, sekaligus memperkuat transformasi informasi publik. Mulai 2026 harus ada percepatan nyata,” ungkapnya.
Dalam paparannya, Kadis Perindustrian Hj. Nuryanti menjelaskan bahwa pihaknya telah memetakan sentra IKM berbasis agromaritim. Beberapa di antaranya:
Dompu → pengolahan ikan kaleng dan sapi
Lombok Utara → kelapa
Lombok Barat → gula aren, garam, serta perikanan
Lombok Timur → porang, sapi, ayam, dan garam ber-IG
Lombok Tengah → walet, tepung tapioka, unggas, serta perikanan Teluk Awang
Sumbawa & Bima → sapi dan garam industri
“Kami memfokuskan program hanya pada komoditas berbasis sentra, agar terukur dan berdaya saing. Kunci percepatan ada pada dua hal: ketersediaan bahan baku dan akses pasar. Untuk itu, setiap kabupaten akan kita dampingi membangun rantai pasok IKM, hingga terbentuk rumah produksi yang kuat,” tegas Nuryanti.
Lebih lanjut, ia menjelaskan tiga kategori industri yang dikembangkan:
Industri lokal berbasis potensi daerah,
Industri substitusi impor,
Industri berorientasi pasar global.
Selain itu, pemetaan IKM juga dilakukan berdasarkan skala usaha kecil, menengah, hingga besar, sehingga intervensi kebijakan bisa lebih tepat sasaran.
“Kami sudah siapkan roadmap. Mulai dari Dompu dengan ikan kaleng, Lombok Tengah dengan walet dan unggas, Lombok Timur dengan porang dan garam IG, hingga Sumbawa–Bima dengan sapi dan garam industri. Target kami, setiap kabupaten benar-benar tampil dengan produk unggulannya,” jelas Nuryanti.
Target PDRB Industri Non-Tambang
Melalui strategi ini, NTB menargetkan pertumbuhan sektor industri non-tambang sebesar 7% dalam PDRB, dengan percepatan capaian 0,56% per tahun hingga 2029.
“Kami optimis, dengan pemetaan sentra, dukungan bahan baku, serta pasar yang jelas, NTB mampu menjadikan agromaritim sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi sekaligus pengungkit kesejahteraan masyarakat,” pungkas Kadis Perindustrian.
