Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB Nuryanti SE., ME menjadi narasumber dalam acara Workshop Revolusi Mental yang mengusung tema “Implementasi dan Kolaborasi Pelaku Usaha dalam Pengembangan Ekonomi Pondok Pesantren”. Kegiatan ini di adakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Hotel Aston Inn Mataram, Senin 24 Oktober 2022.
Acara ini bekerjasama dengan Kemenko PKM RI untuk menguatkan ekonomi Nahdliyin berbasis pondok pesantren dan kontrak belajar. Tentu ini adalah ikhtiar bersama untuk menguatkan ekonomi dalam lembaga pondok pesantren. Seperti yang kita ketahui, Nahdatul Ulama sebagai ormas islam terbesar di Indonesia mempunyai pondok pesantren yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, jika dalam pengelolaan ekonomi tidak di kelola dengan baik tentu akan menjadi masalah tersendiri.
Untuk itu hadirnya Workshop tersebut dapat memudahkan pengelolaan ekonomi yang berbasis pondok pesantren. Nuryanti diawal penyampaiannya menyampaikan tentang program strategis Provinsi NTB yang nantinya diselaraskan dengan implementasi pelaku usaha dalam pengembangan ekonomi pondok pesantren.
Industrialisasi berbasis sekolah atau pesantren di NTB sudah banyak dimulai, saat Roadshow Industrialisasi Gubernur NTB, semua kabupaten/kota yang sudah disambangi dan menampilkan produk industri dari sekolah. Terakhir di kabupaten Dompu, banyak sekolah yang menampilkan produk nya dari industri mesin, olahan makanan, pupuk organik sampai industri multimedia.
Ini menjadi semangat yang bisa dibawa oleh peserta yang hadir untuk menumbuhkan virus industrialisasi di pondok pesantren yang diwakili nya. Nuryanti mengatakan industrialisasi merupakan program unggulan Provinsi NTB, sebuah proses untuk menjadi penggerak ekonomi NTB. Industrialisasi dapat diartikan sebagai pengolahan barang mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi.
“Dari industrialisasi produk tersebut memiliki nilai tambah dan daya saing dalam segi ekonomis” tuturnya.
Menurutnya, selama ini NTB hanya menikmati produk-produk olahan luar, serta hanya sebagian kecil yang berasal dari NTB. Beliau melanjutkan bahwa NTB ditargetkan bisa memenuhi kebutuhan dengan produk hasil sendiri termasuk produk produk pesantren.
“Mindset untuk mengolah produk lokal perlu ditanamkan ke masyarakat, lingkup pendidikan, serta pesantren, utamanya”, tutupnya.
