Industri memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi tetapi bila pembangunan industri tidak memperhatikan aspek gender, maka peluang dan manfaatnya bisa timpang. Itulah mengapa pengarusutamaan gender (PUG) menjadi krusial di wilayah seperti NTB: agar kaum perempuan mendapatkan akses, peluang, dan perlakuan adil dalam seluruh rantai industri baik dari produksi, manajemen, hingga akses pelatihan dan pemasaran. Mewakili Kepala Dinas Perindustrian NTB Dalam dialog di RRI Mataram, Dr. Aryanti Dwiyani, S.Pt.,M.Pd selaku Kepala Bidang Sarana Prasarana dan Pemberdayaan Industri menegaskan bahwa industri di NTB tidak cukup dibangun dari sisi mesin dan fasilitas saja, melainkan juga dari sisi manusia dan kesetaraan.

Menurut Dr. Aryanti, menerapkan PUG dalam kebijakan industri berarti membuka ruang seluas luasnya bagi perempuan untuk berpartisipasi aktif mulai dari usaha mikro dan kecil berbasis rumah tangga, pelaku industri rumah tangga, hingga sektor manufaktur lebih besar. Dengan demikian, kesetaraan gender bukan hanya soal keadilan sosial tetapi juga soal efisiensi dan daya saing: ketika perempuan diberdayakan, potensi ekonomi lokal dapat berkembang lebih maksimal. Hal ini bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari fungsi Dinas Perindustrian NTB dalam mengintegrasikan aspek gender dalam program industri.

Lebih jauh, PUG pada sektor industri membuka peluang bagi transformasi sosial yang lebih inklusif: perempuan di NTB dapat menjadi pelaku utama penggerak ekonomi bukan hanya sebagai tenaga kerja murah melainkan sebagai pengusaha, pengelola, inovator. Dr. Aryanti menyampaikan bahwa dengan demikian, produk-produk lokal tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga merefleksikan nilai keadilan, kearifan lokal, dan kekuatan komunitas. Hal ini membantu mengikis stereotip gender, serta membangun rasa memiliki dan tanggung jawab bersama atas kemajuan industri di NTB.

Akhirnya, integrasi PUG dalam industrialisasi di NTB menunjukkan bahwa pembangunan manusia adalah bagian tak terpisahkan dari pembangunan ekonomi. Dr. Aryanti memandang bahwa keberhasilan industri di masa depan sangat tergantung pada kemampuan daerah memfasilitasi akses setara terutama bagi perempuan terhadap pelatihan, modal, pasar, dan jaringan. Dengan begitu, industrialisasi di NTB tidak hanya tumbuh dalam angka, tetapi juga tumbuh secara adil dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *