Efek Gas Rumah Kaca (Greenhouse Gas Effect)

Oleh : Kemala Febrihadini, ST, M.Eng

     Apakah Anda salah satu yang percaya bahwa gas rumah kaca adalah dampak dari bangunan-bangunan yang memiliki banyak kaca? Hal tersebut adalah kesalah-pahaman. Gas rumah  kaca adalah beberapa jenis gas hasil proses alami atau hasil emisi (buangan), yang  memerlukan waktu yang lama dalam penguraiannya sehingga menutupi lapisan ozon bumi. Tertutupnya lapisan ozon bumi menyebabkan radiasi dan panas matahari yang masuk ke permukaan bumi tidak dapat dipantulkan kembali ke luar, sehingga terjadilah pemanasan global. Terperangkapnya panas di permukaan bumi ini serupa dengan prinsip rumah kaca  untuk pengkondisian budidaya tanaman, oleh karena itu gas-gas tersebut disebut GAS RUMAH KACA.

gambar buat artikel GRK.png

    Sejak tahun 1906, pemanasan global telah mengakibatkan kenaikan suhu bumi sebanyak 1,1-1,6° Fahrenheit atau 0,6- 0.9° Celsius, bahkan lebih di daerah kutub. Dampak pemanasan global ini sudah diketahui dan cukup dirasakan sejauh ini seperti:

  • Melelehnya glester dan pulau es di kutub
  • Perubahan pola curah hujan
  • Peningkatan permukaan air laut
  • Pergerakan dan menyusutnya jumlah populasi satwa terutama di antartika
  • Peningkatan curah hujan dan salju

Melihat dampak yang mengkhawatirkan ini, negara-negara didunia menyepakati Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim atau yang lebih dikenal dengan Kyoto Protocol, untuk mengurangi dampak dari pemanasan global ini dengan membuat rencana aksi. Indonesia sendiri menyepakati untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang diproduksinya hingga tahun 2020 sebanyak 26% (secara mandiri) atau sebanyak 41% (dengan bantuan pihak asing). Rinciannya terlihat pada tabel berikut:

Sektor

Target Penurunan Emisi (Juta tCO2e)

Unilateral (26%)

Multilateral (41%)

Hutan dan Gambut

672

1.029

Pertanian

8

11

Energi dan Transportasi

36

56

Industri

1

5

Pengelolaan Limbah

48

78

TOTAL

767

1.189

* tCO2e : ton CO2 ekuivalen

Perihal rencana aksi untuk penurunan emisi gas rumah kaca ini, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK), dan untuk menindaklanjutinya di tingkat daerah Pemerintah Provinsi NTB juga telah mengeluarkan Peraturan Gubernur NTB Nomor 51 Tahun 2012 tentang Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) Provinsi NTB. Seperti yang tertera pada tabel di atas, kontribusi emisi gas rumah kaca dari sektor industri adalah yang paling  kecil, namun dapat dirinci bahwa emisi gas rumah kaca dari sektor industri di Provinsi NTB berasal dari :

No

Sub Sektor

Rincian

Keterangan

1.

Pangan

IKM Olahan pangan, IKM Penggilingan bahan pangan, IKM Tembakau

Penggunaan bahan bakar fossil seperti : minyak tanah, solar, batubara

2.

Kimia & Bahan Bangunan

IKM Bahan bangunan

Penggunaan bahan bakar solar untuk proses penggilingan/ pengolahan

3.

Kerajinan

IKM Gerabah

Penggunaan bahan bakar biomassa yang aman, karena emisi CO2 nya dapat diserap kembali oleh tumbuhan

Adapun rencana aksi yang melibatkan OPD yang bertanggung jawab pada sektor industri adalah pengalihan pemakaian bahan bakar fossil seperti solar, minyak tanah, dan batubara ke LPG/ listrik melalui pemberian bantuan mesin/ peralatan kepada Industri Kecil dan Mengengah (IKM); seperti mesin pengolahan pangan bersumber energi listrik, alat industri rumah tangga berbahan bakan LPG, konversi tungku gasifikasi tembakau, dll.

Secara umum, hal yang dapat dilakukan masyarakat untuk mendukung upaya penurunan emisi gas rumah kaca antara lain: 

  •  Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor
  • Mengganti penggunaan bahan bakar minyak (fossil) dengan bio-gas, bio-etanol, minyak jarak, atau sumber energi terbarukan lainnya
  • Perbanyak tanaman berdaun hijau dan lebat sehingga untuk menyerap gas CO2
  • Kurangi penggunaan produk ber-freon/ CFC seperti AC dan kulkas 

Penurunan emisi gas rumah kaca ini merupakan tugas yang cukup berat untuk menjamin kelangsungan hidup bumi dan anak cucu kita, namun jika dilakukan bersama-sama dan masing-masing dari kita memberikan kontribusi, maka tugas ini akan menjadi lebih mudah. 

Referensi

Dampak-Dampak Pemanasan Global - National Geographic Indonesia

Direktori Industri Dinas Perindustrian Provinsi NTB

Kyoto Protocol - Wikipedia

Pedoman Penyusunan Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Tahun 2011

Peraturan Gubernur NTB Nomor 51 Tahun 2012

Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011

Unit Kerja: