DINAS PERINDUSTRIAN PROVINSI NTB KEMBANGKAN INDUSTRI PENGOLAHAN SAMPAH

 

MATARAM – Pemerintah terus mendorong penataan industri olahan di NTB, salah satunya adalah sampah plastikmenjadi produk kerajinan bernilai ekonomi. Mengingat potensi limbah sampah plastik cukup bagus. Bahkan potensi pasarnya tembus hingga ke luar negeri.

“ Kami memetakan dua potensi pasar, yaitu pasar pengolahan sampah plastik untuk potensi ekspor,” kata Plt. Kepala Dinas Perindustrian NTB Nuryanti, Selasa.

Yanti mengatakan Dinas Perindustrian NTB memetakan dua potensi pasar produk kerajinan olahan sampah plastik. Dimana, pada 2020 mendatang didorong untuk pelatihan pengolahan sampah plastik menjadi barang-barang yang bisa menilai ekonomis tinggi dan skala ekspor.

Untuk pengolahan sampah ini, Yanti mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( LHK ) bersama pihak terkait lainnya, baik untuk potensi pasar maupun pengolahannya. Sedangkan untuk pemasarannya sendiri, sudah ada beberapa Industri kecil Menengah ( IKM ) di Ampenan yang melakukan pemasaran hingga keluar negeri, yakni ke Australia dan Korea Selatan untuk pengiriman barang-barang kerajinan ( Souvenir ).

“Kita akan perkuat dan kembangkan lagi. Artinya potensi pasar sudah ada, tinggal kita banyak volumenya,” tuturnya. Ia menjelaskan, dalam membangun industri, apalagi industri pengolahan sampah. Ada 3 persyaratan, yaitu kontinuitas pertama, kemudian kuantitas dan kualitas. Tiga hal ini, paling penting menata industri, terutama dari hilir hingga ke hulu. Tak hanya itu saja, Dinas Perindustrian akan membangun sentra pengolahan sampah dibeberapa titik di NTB, serta memberikan pelatihan terhadap para pelaku industri yang ada, khususnya bagi mereka yang mengelola sampah. “ Sekarang ini akan membina 20 orang lagi. Nanti yang 20 orang ini akan ngesub di induknya dan kita sudah punya satu IKM akan menjadi inti plasmanya, dalam proses ekspor,” terangnya.

Menurutnya, industri di NTB tidak banyak, apalagi untuk pengolahan sampah. Maka dari itu saat ini pihaknya sedang membangun klaster kelompok pengolahan sampah. Jadi satu titik ada 20 orang diberikan pelatihan, serta ada 4 titik akan bangun industrinya. Tetapi, pelaksanaan ini harus bisa segera dilaksanakan, serta tetap berjalan. “ Ini harus melibatkan multi sektor tidak bisa sendiri, dari masyarakat juga serta dari dunia usaha harus hadir.

 

 

Sumber: Radar Lombok