Anyaman Ketak

Primary tabs

Sumber foto: wisatadilombok.com 

Salah satu kerajinan yang saat ini tengah popular dan serius dikembangkan oleh pemerintah adalah kerajinan anyaman Ketak yaitu kerajinan tangan yang dibuat dari bahan dasar tanaman yang disebut Ketak. Ketak atau disebut juga paku hata merupakan sekelompok paku-pakuan merambat yang termasuk dalam marga Lygodium. Marga ini juga merupakan satu-satunya marga dalam suku Lygodiaceae. Ketak memiliki sifat yang kuat dan liat sehingga cocok digunakan sebagai bahan kerajinan. hal ini merupakan keunggulan ketak yang bisa mendukung kualitas produk anyaman yang dihasilkan.

Ketak dapat dikembangkan menjadi banyak bahan komoditi olahan seperti asbak, nampan, tempat tisu, tempat buah, dan saat ini yang paling banyak peminatnya adalah tas.

Kerajinan anyaman ketak di Lombok terdapat di tiga kabupaten yaitu kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur, dengan 64 sentra. Unit Usaha 15.004 buah dan dapat menampung tenaga kerja sebanyak 25.631 orang serta menyerap investasi sebesar 3.816.663.000,-. Saat ini, minat masyarakat terhadap kerajinan sangat tinggi sehingga dinilai bisa menjadi salah satu sumber ekonomi penunjang pariwisata NTB.

Kerajinan tangan sejak lama sudah menjadi budaya dan tradisi masyarakat Lombok. Masyarakat banyak menganyam rotan, ketak, ataupun kulit bambu yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Misalnya di desa Beleke di Kabupaten Lombok Barat. Salah satu anyaman terkenal dari desa ini adalah Cupu dan Gandek. Cupu adalah sebuah wadah yang berbentuk bulat, yang biasanya digunakan sebagai tempat tembakau dalam upacara Bendulang. Benda ini memiliki kaitan sejarah dan budaya masyarakat setempat yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kerajinan anyaman Desa Beleka.  Gandek adalah sebuah tas tradisional khas Pulau Lombok yang terbuat dari anyaman kulit bambu dengan kayu yang diukir pada bagian tutup dan dasarnya. Seperti halnya tas-tas modern, Gandek juga digunakan untuk menyimpan barang-barang pribadi. Bagi kaum pria Suku Sasak, Gandek dipakai ketika bekerja atau ketika bepergian.

Awalnya anyaman Ketak berkembang sekitar tahun 1986 di Desa Nyurbaya Gawah Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat. Karena berlimpahnya bahan baku di sana, masyarakat banyak memanfaatkan ketak untuk kebutuhan sehari-hari. Pada tahun 1988 pemerintah mulai melakukan pembinaan serta intensif berupa pelatihan keterampilan, pengembangan design, pameran baik lokal maupun nasional, sehingga produk anyaman ini dapat berkembang mulai dari Lombok Barat, Lombok Tengah ke Lombok Timur.