2 Juli 2020

Dinas Perindustrian NTB

Industri Bergerak | Ekonomi Meningkat | Masyarakat Sejahtera

Bincang IKM

Aisah Odist: Mengubah Sampah Menjadi Berkah

Aisah Odist. Demikian perempuan bergaya tomboy ini biasa dipanggil oleh rekan-rekan sejawatnya. Kesehariannya adalah sebagai Founder Bank Sampah NTB Mandiri. Bank Sampah Mandiri NTB merupakan bank yang mengolah sampah menjadi aksesoris dan pernak-pernik kerajinan lainnya. Bank Sampah NTB Mandiri berlokasi di sebuah bilangan perumahan di wilayah Ampenan – Kota Mataram. Mbak Aisah, demikian kami memanggilnya, menerima kami dengan semangat– tim PPID Disperin Provinsi NTB – di berugak halaman rumahnya yang cukup asri. Berbagai tumpukan pernak-pernik olahan sampah tersusun rapi dan indah, disela-sela distro tempat Mbak Aisah menampilkan produk kerajinan dan aksesorisnya yang seluruhnya berbahan dasar sampah. Ditemani beberapa cangkir kopi hitam, kami mulai berbincang-bincang mengenai hal-hal terkait dengan Bank Sampah NTB Mandiri binaan Mbak Aisah. “ Urusan sampah seperti ini tidak bisa dirahasiakan ya, awalnya mengelola sampah dari rumah, tahun 2011, tidak menyangka akan jadi sebesar sekarang” ungkap mbak Aisah. “Awalnyaa sih hanya hobi, berkreasi dengan bahan sampah, dan senang dengan kegiatan-kegiatan berbau lingkungan gitu” demikian tutur Mbak Aisah ketika kami bertanya mengenai latar belakang berdirinya Bank Sampah NTB Mandiri ini. “Dulu sering kita dengar kampanye soal sampah, bersih-bersih lingkungan, bersih-bersih pantai dan sebagainya, tapi menurut saya itu tidak akan berhasil menyelesaikan persoalan sampah, karena bersih-bersih sekarang, besok kotor lagi, sekarang kita angkat sampahnya, besok kotor lagi, begitu seterusnya” ujar Mbak Aisah ketika mulai bercerita mengenai seringnya kampanye kebersihan yang dicanangkan oleh banyak pihak namun sama sekali belum menyentuh akar persoalan pengelolaan sampah yang komprehensif dan bernilai guna. 

Inisiasi Bank Sampah Mandiri NTB

Berawal dari mengumpulkan jenis-jenis sampah yang “tidak laku dijual”, Aisah Odist memberanikan diri mulai melakukan inisiasi pengelolaan sampahnya sendiri. Mulai mengumpulkan bungkus-bungkus jajan, bungkus kopi, bungkus deterjen dan jenis-jenis sampah “tidak laku dijual” lainnya, Bank Sampah NTB Mandiri memulai langkah pertamanya. Dimulai dari kegalauannya dalam melihat berbagai jenis sampah plastik yang berada di sekitarnya, Aisyah Odist mulai mencari berbagai informasi mengenai Bank Sampah dan model pengelolaannya dari internet dan media informasi lainnya. Berangkat dari rasa penasaran, pada tahun 2016, model Bank Sampah NTB Mandiri secara bertahap mulai didesain dan digagas oleh Aisyah Odist. Bermula dari mempekerjakan 1 orang dengan bekerja selama setengah hari, lambat laun karena jenis sampah yang dikelola semakin banyak, mulai mempekerjakan karyawan dari sekitar rumahnya dan sampai saat ini telah mempekerjakan 9 orang karyawan untuk menjalankan Bank Sampah NTB Mandiri. “Misalnya bungkus tempe, itu kan sayang ya, dibuang begitu saja, saya tanya sama yang jual tempe, ya memang untuk dibuang, padahal kan kalo diolah, bisa bagus untuk isi bantal, bersih dan gag berisik”, tutur Mbak Aisah dengan penuh semangat ketika menunjukkan bantal dari bahan plastik yang diisi dengan bungkus tempe yang telah diolahnya kepada tim PPID Disperin Provinsi NTB.

Bank Sampah NTB Mandiri Sudah Merambah Pasar Internasional

Dalam menjalankan Bank Sampah NTB Mandiri, Aisyah Odist menegaskan bahwa sebuah Bank Sampah harus punya standar yang jelas dalam penentuan produknya. Standar yang dimaksud disini adalah detail-detail ukuran produk olahan sampah yang seringkali luput dari perhatian publik. “Paling susah kalo sudah berbicara soal detail ukuran, ribet ngajarinnya, misalnya ada yang mesen tas dengan ukuran 20 cm x 20 cm, oleh masyarakat dibuatnya ukuran 20 cm x 21 cm, disengaja agar tampilannya indah, nah itu yang gag bener karena pesanan konsumen ya gag begitu, dan itulah yang pada awalnya pelan-pelan diluruskan.”, demikian tutur Mbak Aisah ketika bercerita mengenai proses pembelajaran yang dilakukannya di tengah-tengah masyarakat yang mulai membangun kepedulian dalam mengolah sampah. Terkait dengan penerapan SOP secara ketat tersebut, telah banyak produk olahan sampah yang diinisiasi oleh Bank Sampah NTB Mandiri, mulai dari bantal plastik, dompet plastik, ikat pinggang, tas tangan, celemek dan berbagai pernak pernik olahan sampah lainnya. Beberapa jenis olahan telah dikirim ke luar negeri seperti Belanda, Australia, Jepang bahkan sampai ke Jamaika. “Orang bule lebih bisa menghargai produk olahan sampah dibandingkan orang lokal, kendala mereka hanya pada saat pengiriman karena melibatkan penyimpanan barang yang besar, jika barangnya bisa disederhanakan dan dipacking secara mudah, permintaan pasar luar negeri sangat banyak”, tutur Mbak Aisah menjelaskan mengenai peluang pasar yang dapat menjadi peluang usaha jika ada pihak yang meminati dan menseriusi pengelolaan Bank Sampah di wilayahnya masing-masing.

Konsep Tabungan Bank Sampah

Banyak diantara kita yang mungkin bertanya, mengapa diberi nama Bank Sampah? Konsep Bank seperti apa yang dijalankan dalam Bank Sampah NTB Mandiri ini? Menilik hal tersebut, Aisah Odist yang sering diundang menjadi pembicara dalam seminar nasional dan internasional terkait denga isu lingkungan ini menjelaskan bahwa konsep Bank Sampah NTB Mandiri ini dibangun dengan memberikan insentif kepada mitra Bank Sampah yang datang membawa sampah plastik ke Bank Sampah. Insentif ini disimpan dalam bentuk Tabungan Sampah yang dapat dicairkan secara berkala, bisa setiap 6 bulan atau 1 tahun. Insentif yang dimaksud adalah nilai rupiah yang dihargai dari setiap satuan sampah plastik yang dibawa oleh mitra ke Bank Sampah NTB Mandiri. Misalnya tiap 100 kantong plastik bekas kopi sachet dihargai Rp. 2.000,-, apalagi jika bisa dibuat menjadi kreasi-kreasi olahan kecil untuk nantinya didesain oleh para pengrajin di Bank Sampah, nilainya akan dihargai semakin besar. Simpanan uang di Tabungan Sampah inilah yang kemudian akan diberikan kepada mitra Bank Sampah dalam bentuk sejumlah uang. Konsep tabungan sampah ini sedang menjadi salah satu trend yang berkembang di masyarakat. Banyak jenis sampah plastik yang kemudian dihargai dengan sejumlah uang, dimana kemudian sampah plastik tersebut diolah dan dikelola menjadi sesuatu yang bersifat lebih bernilai pasar. Secara bertahap, pola pembayaran dengan sampah ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi timbunan sampah plastik di tengah-tengah masyarakat kita. Bahkan menurut informasi, salah satu Universitas swasta di Kota Mataram pun telah mulai menginisiasi pola pembayaran uang kuliah dengan menggunakan sampah, sebuah inovasi yang layak untuk dikaji untuk menjadi sebuah kebijakan Pemerintah Provinsi NTB dalam model pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan.   

Tidak pernah mudah mendidik dan mengedukasi masyarakat soal pengolahan limbah sampah, apalagi limbah sampah plastik, banyak proses yang harus dilalui, banyak waktu yang harus dibuang sehingga edukasi tersebut berjalan dengan optimal. Bahan dasar sampah plastik yang cenderung dianggap “bukan apa-apa” menjadikan persepsi masyarakat yang mengolah pun masih menjadi barang yang “bukan apa-apa”. Atas dasar pemikiran diatas, Mbak Aisah berkomitmen untuk tidak membuka cabang Bank Sampah-nya, “Saya gag pernah berniat untuk buka cabang”. “Kalo ada yang ingin belajar, saya ajarkan, silahkan datang kesini atau undang saya sebagai pembicara, boleh, silahkan”. “Tidak ada masalah, saya siap berbagi ilmu, kalau sudah merasa cukup, silahkan buat Bank Sampah sendiri, gak masalah”. “Bicara soal order, ya silahkan cari pasar masing-masing, jika ada kesulitan, kami di sini siap membantu”. “Kalau ada Bank Sampah yang mendapatkan pesanan besar, ya malah bagus tho, artinya sampah yang diolah semakin banyak, sampah yang keluar jadi semakin besar, yang penting sama-sama mengolah sampah, untuk orang banyak, untuk lingkungan, silahkan saja”, semangat Mbak Aisah bercerita dengan lantang ketika kami berdiskusi terkait dengan banyaknya Bank Sampah yang saat ini mulai berdiri di lingkaran Kota Mataram. Hal ini menggambarkan semakin tingginya keberpihakan masyarakat dalam hal pengolahan sampah khususnya sampah plastik di tataran masyarakat. Konsep ini tentunya sejalan dengan program Pemerintah NTB yaitu Zero Waste 2023. Dan geliat ini pun semakin menunjukkan bahwa pengolahan sampah jika dilakukan dengan metode yang baik bisa memberikan nilai tambah yang signifikan dalam koridor perekonomian skala kecil dan menengah.