10 Agustus 2022

TPID NTB Gelar Rakor untuk Ketersediaan dan Pengendalian Harga Bahan Pokok Jelang Hari Raya Idul Adha

Mewakili Kadisperin NTB, Kepala Bidang Sarana, Prasarana & Pemberdayaan Industri, Baiq Yunita Puji Widiani, ST., M. Si Menghadiri Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi NTB dengan tema “Pentingnya Sinergitas Untuk Menjaga Ketersediaan Dan Pengendalian Harga Bahan Pokok Menjelang Hari Raya Idul Adha 1443 H/2022” yang bertempat di Hotel Lombok Raya pada hari Selasa, 05 Juli 2022.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Perwakilan BI (Heru Saptaji), Deputi BI NTB (Ahmad Fauzi), Anggota TPID Provinsi, seluruh asisten ekonomi pembangunan kab/kota se  NTB yg menjabat sebagai ketuan TPID kab/kota. Rapat Koordinasi dibuka oleh Gubernur NTB yang dalam hal ini diwakili oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi Keuangan Infrastruktur dan Pembangunan Pemprov NTB , Amri Rahman.

Drs. H. Wirajaya Kusuma selaku ketua penyelenggara meminta semua pihak mengantisipasi laju inflasi menjelang Idul Adha. “Sudah menjadi Hukum ekonomi, ketika permintaan harga meningkat maka hargapun akan naik. Kegiatan hari besar keagamaan pasti akan menyebabkan semakin meningkatnya permintaan bahan pokok strategis, yang harus jadi perhatian untuk kita semua. BPS sudah merilis besaran inflasi NTB pada bulan Juni yang melampaui angka inflasi bulan Mei, dengan inflasi gabungan NTB sebesar 0,92% meningkat 0,27 % dari bulan Mei. Diharapkan dengan diadakannya rakor ini  bisa dirumuskan hal yg sifatnya strategis untuk mengendalikan inflansi, tertutama kelompok volatile food, karena dari catatan sejarah volatile food di 5 tahun terakhir sebagai penyumbang utama infasi”. Tuturnya.

Komoditas yang diperkirakan menjadi penyebab inflasi, seperti tomat, tongkol yang diawetkan, telur ayam ras, cabai merah, bawang merah, minyak goreng, rokok kretek, Angkatan udara, dll. Secara keseluruhan fluktasi, inflasi & deflasi pertumbuhan laju ekonomi di Triwulan I tahun 2022 dibandingkan di Tahun 2021 dengan ada tambangnya NTB termasuk 3 provinsi yang laju pertumbuhan  ekonominya tertinggi di indonesia yaitu 7,76 % tetapi tanpa tambang laju pertumbuhan ekonomi hanya 5,15% jadi tambang menyumbang besar untuk laju pertumbuhan ekonomi NTB.

Ditengah Acara Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc yang berkesempatan hadir bersama ibu Niken Saptarini Widyawati  memberikan point arahan, “Dengan bersinergi, kolaborasi, & silaturahmi kita mampu mengendalikan inflasi daerah yang secara paralel mengikuti dinamika ekonomi yang ada, dan NTB ini termasuk provinsi yang laju pertumbuhan ekonominya tertinggi di Indonesia”.

Adapun kesimpulan dari Rapat Koordinasi:

  1. Meningkatkan kolaborasi sinergitas maupun KAD untuk komoditas-komoditas yang sangat dibutuhkan
  2. Pengendalian dan pengawasan terhadap pelanggaran yang terjadi (penegakan hukum)
  3. Menerapkan aplikasi untuk mengetahui fluktuasi harga yang terjadi
  4. Pembuatan neraca pangan dari masing-masing kabupaten/kota