3 Juli 2022

Naik Kelas, Sembilan IKM Produk Olahan Pangan NTB Diuji F0

HarianNusa, Mataram – Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Perindustrian terus mendukung dan memberikan kemudahan bagi Industri Kecil Menengah (IKM) di NTB untuk terus meningkatkan kualitas produknya sehingga bisa naik kelas dan dipasarkan secara internasional, terlebih dengan adanya event dunia MotoGP Mandalika.

Di awal tahun 2022 ini, ada sebanyak sembilan IKM produk olahan pangan NTB akan dilakukan uji F0 oleh Dinas Perindustrian NTB bekerjasama dengan pihak terkait.

“Uji F0 ini sebagai salah satu upaya pemerintah mengintervensi IKM agar mereka termotivasi untuk memproduksi produk olahan pangan dengan SOP yang baik,” ungkap Kepala Dinas Perindustrian NTB Nuryanti, di kantornya (14/3) kemarin

Menurutnya, untuk meningkatkan daya saing produk lokal dengan produk luar dibutuhkan kualitas mumpuni. Sebagai wujud politik kontrol ini, sambungnya, dengan melakukan teknologi Uji F0 guna memastikan proses produksi produk olahan pangan dapat menekan atau meniadakan bakteri dalam makanan. Sehingga makanan bisa menjadi lebih awet higienis satu tahun tanpa harus menggunakan bahan pengawet.

“Sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet. Tidak ada bakteri dalam kemasan sehingga ini bisa bertahan lama,” tegasnya.

Dalam proses seleksi bagi IKM untuk mengikuti Uji F0, kata dia, berawal pada pilot project tahun 2021 diikuti lima pelaku IKM, meski hasil akhir uji hanya empat yang lolos Uji F0. Namun di tahun 2022 ini, dinas menambah lagi pelaku IKM untuk ikut Uji F0 sebanyak sembilan IKM.

“Termasuk empat sebelumnya melanjutkan diversifikasi produk, yang sebelumnya pakai kemasan pouch kini diuji untuk kemasan kaleng sehingga harus diuji kembali,” paparnya.

Adapun kesembilan IKM yang akan diuji adalah Sate Rembiga Goyang Lidah di Rembiga; Depot Taliwang dengan produk Ayam Taliwang milik Hj Nurhidayati; UD Bunda Smart untuk Sate Tanjung di Lombok Utara; Rumah Makan Puyung di Lombok Tengah; olahan pangan di Balai Kemasan; Artshop Id di Parado Kuta Bima berupa bumbu dungga (jeruk, red) dan madu hutan; Sate Bulayak di Lombok Barat; UD Lista untuk produk sambal di kawasan Sayang-sayang; dan Ayam Taliwang Dalam Kampung.

“Pelaksanaan Uji F0 dilakukan sejak hari ini (kemarin, red) hingga Jumat tanggal 18 Maret,” jelasnya.

Nuryanti menyebutkan, ada beberapa persyaratan bagi IKM untuk dilakukan uji F0. Mulai dai kegiatan produksi hingga peralatan yang digunakan dalam proses produksi.

“Rumah produksi harus terpisah (berdiri sendiri), peralatan yang digunakan juga tidak boleh tercampur dengan yang digunakan sehari-hari di dapur. Mesin yang digunakan harus ada dan sesuai standar permesinan yang dimiliki IKM, mulai dari proses vakum hingga mesin steril; proses produksi yang higenis. Yang terpenting dan taat SOP serta telaten,” ujarnya.

Dalam proses uji F0 ini, pihaknya terus mencari potensi IKM dan selanjutnya melakukan pendampingan sejak awal.

“Dalam proses Uji F0 ini, dinas sebelumnya keliling mencari potensi IKM dengan kuliner legend dan diwawancara, berlanjut pada Bimtek. Dengan IKM ikuti Uji F0 sekaligus miliki hak paten intelektual, kemasan, ijin edar BPOM, label halal dari MUI,” jelas bu Yanti, panggilan akrabnya.

Dijelaskan pula, saat ini ada empat produk IKM yang telah lulus uji F0 tahun lalu yang produknya dapat dipasarkan di event internasional MotoGP Mandalika. Karena yang tahun ini masih dalam proses dan membutuhkan waktu yang cukup lama, meski satu minggu. Namun dipastikan, Disperin yang telah memiliki stan are premium dalam Bazaar Mandalika bakal menyajikan kuliner siap saji dan produk dalam kemasan.

“Pemprov NTB juga siapkan sepuluh titik untuk memasarkan di titik kumpul, seperti di BRIDA, Islamic Center, Sangkareang, ex Bandara Selaparang dan lainnya,” kata Nuryanti.

Dinas Perindustrian NTB juga akan membantu para IKM yang telah lulus uji F0 untuk memasarkan produknya, dengan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak termasuk kabupaten/kota di NTB.

Sementara, Food Enginering Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dr. Asep Nurhikman menjelaskan, Uji F0 merupakan pengujian terhadap makanan atau olahan pangan dalam kemasan untuk diketahui kecukupan panas yang masuk ke dalam makanan. Ini sesuai dengan Perka BPOM nomor 24 tahun 2016, dimana suhu 121 derajat Celcius selama minimal tiga menit.

“Ini harus tercukupi jika tidak, saya anggap tidak lolos uji. Kalau tercukupi itu lolos,” jelasnya kepada sejumlah awak media. (F3)

Ket. Foto: Kepala Dinas Perindustrian NTB Nuryanti, menunjukkan beberapa produk olahan pangan IKM NTB yang akan diuji F0. (HarianNusa)

Baca selengkapnya di https://hariannusa.com/2022/03/15/naik-kelas-sembilan-ikm-produk-olahan-pangan-ntb-diuji-f0/ | HarianNusa.Com