21 Mei 2022

Kemenparekraf fasilitasi 100 IKM NTB bertemu mitra dan pembeli

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memfasilitasi sebanyak 100 orang pelaku industri kecil menengah (IKM) kuliner, busana, kosmetik, dan kriya di Nusa Tenggara Barat, bertemu dengan mitra dan pembeli dalam kegiatan temu bisnis penguatan rantai pasok industri pariwisata dan industri kreatif.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Kemenparekraf bekerja sama dengan lima organisasi perangkat daerah lingkup Pemerintah Provinsi NTB, yakni Dinas Pariwisata, Dinas Perindustrian, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), serta Dinas Perdagangan, digelar di Hotel Merumatta Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, Kamis (27/1).

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah NTB, Muhammad Husni, dalam sambutannya menjelaskan kegiatan tersebut bertujuan untuk mempertemukan antara pihak penjual dengan pembeli, yakni pelaku UMKM dengan perhotelan. 

Selain itu juga untuk melakukan identifikasi kebutuhan hotel, mengkurasi IKM dan melakukan upscaling kepada pelaku usaha.

“Harapannya, melalui kegiatan temu bisnis ini, terjadi kesepakatan antara supply dari UMKM dengan demand dari perhotelan secara berkelanjutan,” kata Husni, dalam sambutannya.

Sebanyak 100 IKM yang hadir dalam acara tersebut merupakan IKM yang telah memiliki legalitas dan telah lulus kurasi serta verifikasi dari Kemenparekraf.

Dinas Perindustrian NTB mengusulkan IKM kuliner legend NTB, yakni ayam taliwang, sate rembige, ayam rarang dan IKM kosmetik yang sudah terstandardisasi, yakni Oganic Lombok, dan CV Iwin Insani.

Deputi bidang Industri dan investasi Kemenparekraf, Fadjar Hutomo, mengatakan penguatan rantai pasok industri pariwisata dan industri kreatif adalah upaya menyiapkan rantai pasok pertumbuhan wisata di lima daerah super prioritas, salah satunya Destinasi Super Prioritas (DSP) Mandalika.

Saat ini, lanjutnya, pemerintah fokus pada pengembangan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Pariwisata yang berkualitas adalah pariwisata yang membuat pengunjung tinggal lebih lama dan belanja lebih lama.

“Pariwisata berkelanjutan adalah pariwisata yang dibangun dan dikembangkan dengan memperhatikan empat pilar, yaitu tata kelola destinasi pariwisata berkelanjutan, keberlanjutan dari UMKM lokal, kearifan lokal, dan lingkungan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindusrian NTB Nuryanti, yang hadir dalam kesempatan tersebut, berharap melalui kegiatan temu bisnis penguatan rantai pasok industri pariwisata dan industri kreatif, pasar-pasar IKM akan semakin luas, khususnya bisa masuk ke sektor perhotelan.

Ia juga berharap, IKM-IKM yang ada bisa difasilitasi pembiayaan oleh kementerian terkait promosi dan pembelian sampel produk IKM.

“Untuk di awal itu memang berat. Apalagi bagi pelaku UKM, sehingga harapannya fasilitasi pembiayaan di awal terkait promosi dan sampel bisa dilakukan oleh kementerian,” katanya.

Zaturrizka, salah satu IKM abon dari Kota Mataram, mengaku bangga dan bersyukur bisa mengikuti kegiatan temu bisnis penguatan rantai pasok industri pariwisata dan industri kreatif. Pasalnya, kegiatan itu adalah momen penting untuk bertemu dengan pembeli dan sehingga produk bisa terjual.

“Senang banget. Ini peluang besar bagi kami untuk promosi, bertemu mitra sekaligus pembeli. Terima kasih kepada pemerintah yang telah memberikan kesempatan kepada kami,” tutur Zaturrizka.