Barabali, Lombok Tengah — Sabtu, 15 November 2025 Kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kualitas Tembakau Pascapanen yang berlangsung selama empat hari (12–15 November 2025) di Sentra Industri Hasil Tembakau Desa Barabali, Kecamatan Batukliang, resmi ditutup oleh Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Hj. Nuryanti, SE., ME.
Bimtek ini diikuti oleh 40 petani tembakau dari Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Lombok Timur sebagai bentuk komitmen Dinas Perindustrian NTB untuk meningkatkan kapasitas petani dalam pengolahan tembakau pascapanen serta memperkuat daya saing industri tembakau di NTB.
Peserta dibekali materi oleh tiga instruktur ahli mengenai sejarah dan variasi tembakau dunia, karakteristik tembakau NTB, dan teknik penanganan pascapanen yang tepat.
Antusiasme peserta sangat tinggi, mengingat banyak dari mereka telah memiliki fasilitas oven pengering namun masih menghadapi kendala teknis yang menyebabkan kerugian produksi.
Dalam sambutan penutupnya, Kadis Perindustrian NTB Hj. Nuryanti, SE., ME, menyampaikan apresiasinya atas keberhasilan pelaksanaan Bimtek dan semangat seluruh peserta. Beliau menegaskan komitmen pemerintah untuk meningkatkan kualitas industri tembakau di NTB dan mendorong petani naik kelas.
“Kita harapkan tindak lanjut dari kegiatan ini dapat berjalan di tahun 2026. InsyaAllah ini menjadi bagian dari upaya kita menumbuhkan ekonomi yang lebih stabil. Kita juga akan mengupayakan kerja sama dengan perusahaan besar agar petani kita bisa naik kelas, dari petani menjadi pengusaha tembakau yang mandiri,” ujarnya.
Beliau juga menambahkan bahwa rencana penyelenggaraan pelatihan grader di masa mendatang sangat penting untuk memperkuat standar kualitas tembakau dan arah pembangunan industri tembakau NTB ke depan.
“Pengembangan industri hasil tembakau di NTB tidak hanya berbicara tentang produksi. Kita ingin membangun ekosistem industri yang kuat, yang mampu mengurangi angka kemiskinan dan membuka kesempatan kerja seluas-luasnya. NTB harus menjadi kawasan industri agromaritim yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.” Jelasnya.
Beliau juga menegaskan lima arah strategis yang akan menjadi fokus Dinas Perindustrian NTB:
- Peningkatan daya saing dan efisiensi produksi
“Kita akan mendorong modernisasi mesin produksi, penggunaan teknologi ramah lingkungan, pelatihan SDM, dan optimalisasi rantai pasok dari petani hingga industri.” - Penguatan kualitas bahan baku
“Mutu tembakau lokal harus ditingkatkan agar mampu bersaing dengan produk impor. Varietas juga perlu didiversifikasi dan diperkuat melalui kemitraan petani–industri.” - Inovasi produk IHT
“Industri harus terus berinovasi, termasuk mengembangkan produk tembakau alternatif yang lebih aman dan meningkatkan kualitas kemasan serta branding sesuai regulasi.” - Diversifikasi industri turunan
“Limbah tembakau bisa menjadi nilai tambah—mulai dari kosmetik, pupuk organik hingga pestisida alami—serta memperkuat industri pendukung seperti kemasan, logistik dan filter.” - Keseimbangan regulasi, tenaga kerja, dan peluang ekspor
“Regulasi harus adil bagi industri dan petani. Kita juga harus melindungi tenaga kerja, terutama perempuan, sembari memperkuat pengawasan produk ilegal dan membuka akses ekspor yang lebih luas.”
Penutupan Bimtek kali ini menjadi langkah awal dari penguatan sistem produksi, kualitas, hingga hilirisasi industri tembakau NTB. Dengan dukungan lintas bidang serta kolaborasi bersama petani, pemerintah desa, dan pelaku industri, Dinas Perindustrian NTB optimis bahwa industri tembakau daerah mampu bersaing secara nasional maupun global.
