26 September 2020

Dinas Perindustrian NTB

Industri Bergerak | Ekonomi Meningkat | Masyarakat Sejahtera

ETNIC Lombok Coffee: Berawal Dari Hobi

Lahir dari keluarga yang suka ngopi, hal itulah yang melatarbelakangi seorang Dodi Adi Wibowo atau yang akrab di panggil Mas Dodi memulai usaha kopi dengan brand Etnic Coffee. Sewaktu menjalani perkuliahan di Jurusan Komunikasi UPN Jogya pada awal milenium, Mas Dodi banyak membawa sampel kopi dari NTB khususnya Kopi Lombok untuk dipamerkan dan dipasarkan di kalangan mahasiswa Kota Gudeg. Dan hasilnya, Kopi Lombok masih jauh dari kata populer dibandingkan dengan brand kopi lain di Indonesia seperti Kopi Lampung, Kopi Toraja dan Kopi Gayo. Hal ini memotivasi seorang Dodi Adi Wibowo untuk semakin menekuni dunia perkopian khususnya untuk mengembangkan kopi Lombok dan sejenisnya. 

Dalam perjalanannya menekuni dunia perkopian sebagai pengusaha pemula, Mas Dodi pernah mendapatkan kesempatan menjadi salah satu peserta studi banding ke Santiago–Chili. Kegiatan yang disponsori oleh Kementerian Luar Negeri RI bekerjasama dengan Kedubes Indonesia untuk Chili dalam rangka peringatan 50 tahun kerjasama Indonesia Chili ini mengundang Mas Dodi sebagai salah satu peserta. Disana Mas Dodi bertemu dengan master-master kopi kelas dunia dan saling berbagi kopi bawaan dari negara masing-masing. Hasilnya Kopi Lombok yang dibawa Mas Dodi diakui memiliki citarasa yang khas namun masih memiliki kekurangan dari segi pengolahan dan kualitas rasayang dihasilkan. Namun keunikan kopi Lombok membawa berkah order dari sponsor sekitar 2 (dua) ton, namun pada waktu itu belum bisa terpenuhi karena stok yang terbatas dan kemampuan finansial yang belum memadai. “Saya ke Chili murni karena undangan Kementerian Luar Negeri RI sebagai seorang penggiat usaha kopi, tidak ada sponsor lain.” ungkap Mas Dedi

Dengan mengusung pengalaman dan masukan masukan dari para barista kelas dunia dari event di Chili, motivasi untuk mulai mengembangkan brand Kopi Lombok semakin kuat. Dimulai dari menginisiasi petani kopi di Sembalun dengan varietas Arabika, Mas Dodi mulai mempelajari teknik pengolahan biji kopi sampai ke proses pengolahannya menjadi secangkir kopi siap saji. Kemudian berkembang ke biji kopi di Rempek KLU yang saat ini mulai didorong sebagai salah satu sentra kopi di NTB. Kesimpulan awal Mas Dodi, brand kopi di NTB masih sangat amburadul, hanya besar di nama, tapi soal kualitas dan rasa masih sangat jauh, dibilang jelek saja belum bisa, begitulah kira kira.

Untuk mendapatkan hasil olahan kopi yang baik, menurut Mas Dodi, yang paling penting untuk disiapkan adalah processor kopi. Istilah prosessor ini mengacu pada komponen elektronik pada komputer yang berfungsi sebagai pusat pengolahan data dan menjadi komponen paling vital dalam dunia perkomputeran. Dalam konteks pengolahan kopi, procesor ini merupakan SDM terlatih yang berfungsi sebagai garda terdepan dalam menentukan biji kopi mana yang akan diolah, aktifitas seorang processor dimulai dari pemilihan biji kopi dalam proses pemetikan buah kopi, pemanenenan, penjemuran, pengeringan, pengupasan biji kopi sampai biji kopi siap untuk diolah dalam mesin roasting. Peran prosessor ini menjadi sangat vital karena pemilihan biji kopi yang baik akan memberikan hasil yang baik pula. Banyak orang berasumsi bahwa sebuah kopi yang baik tergantung dari seberapa ahli kemampuan seseorang dalam menyajikan kopi, asumsi itu sangat keliru karena segelas kopi yang nikmat dihasilkan dari proses pemilihan biji kopi dari proses pemanenan yang dilakukan dengan standar mutu yang jelas. Kopi yang baik dihasilkan dari 60 persen proses pasca panennya oleh seorang processor, 30 persen dari proses roastingnya dan 10 persen dari kemampuan barista sebagai penyaji kopi kepada konsumsen atau penikmat kopi.

Menurut Mas Dodi, kepada tim medsos Disperin NTB, mengembangkan kopi di NTB harus punya rencana aksi yang jelas, penyiapan processor kopi menjadi salah satu tugas awal yang harus dilakukan. Hal ini harus diinisiasi dalam bentuk diklat dan bimtek pelatihan kopi yang dibiayai oleh pemerintah. Monitoring dan evaluasi para prosessor kopi pun harus terus dilakukan dalam menjaga standar kualitas biji kopi yang dihasilkan. Inisiasi pemerintah juga bisa diberikan dalam bentuk peralatan pasca panen seperti mesin pengering, mesin pengupas dan mesin penjemur biji kopi untuk menjaga standardisasi biji kopi sebelum masuk ke proses roasting. Pembentukan asosiasi kopi pun harus ditujukan untuk membangun rencana aksi yang jelas dalam pengembangan kopi NTB, tidak hanya sekedar diskusi dan basa basi, namun rencana aksi yang terukur dengan dukungan semua OPD terkait. Dengan rencana aksi yang jelas dan terukur, dalam jangka waktu 3 tahun, kopi NTB akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Peluang pasar untuk kopi olahan yang baik sangat terbuka untuk lingkup Lombok dan sekitarnya, belum lagi berbicara pasar di luar NTB. Mas Dodi memberikan penjelasan bahwa management hotel khususnya yang ada di Lombok sangat berminat untuk memberikan kesempatan kepada produk produk lokal NTB untuk menjadi kuliner standar dalam hotel mereka tentunya dengan memperhatikan standar kualitas dan kuantitas yang diinginkan oleh pihak manajemen selaku konsumen.

Hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah pembuatan mesin pengolah kopi mutlak harus melibatkan para praktisi kopi, dengan tidak mengesampingkan para ahli permesinan tentunya. Hal ini dikarenakan banyak sekali teori teori pengolahan kopi yang tidak dipahami oleh orang orang yang tidak bergelut di dunia pengolahan kopi. Hal ini untuk membangun standarisasi rasa kopi yang dihasilkan. Membuat mesin pengolah kopi tanpa melibatkan praktisi kopi sama seperti tubuh tanpa nyawa, fisiknya ada tapi rohnya gag ada. Hal ini yang menjadi sorotan Mas Dodi ketika berdiskusi terkait dengan industrialisasi komoditas kopi dalam konteks pengolahan kopi NTB.

Pernah mencoba membuka usaha warung kopi di bilangan Kota Mataram, sebagai bagian dari idealisme mengembangkan Kopi Lombok, saat ini Mas Dodi lebih berkonsentrasi pada usaha untuk membangun SDM PROSESSOR KOPI di tingkat tapak. Sampai saat ini baru 2 orang prosessor kopi yang memenuhi standar sebagai processor, 1 orang di Rempek dan 1 orang lagi di Sembalun. Prosessor ini haruslah orang yang bergerak di dunia perkopian, bisa petani kopi, pengepul kopi atau orang yang memiliki passion di bidang kopi. Processor tugas mensortir biji kopi dari petani, untuk kemudian dibeli oleh Mas Dodi dengan harga yang layak dan kemudian di roasting dengan mesin pengolah kopi di IKM Etnic Coffe untuk kemudian ditawarkan kepada supplier dan toko oleh oleh sebagai mitra kerja Mas Dodi. Sebagai perbandingan, Mas Dodi mengisahkan bahwa petani kopi di Rempek untuk tahun 2019 produksi panennya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya, namun dengan proses verifikasi oleh para prosessor tadi, dengan kuantitas produksi yang lebih sedikit, nilai jualnya meningkat sampai 3 kali lipat dibandingkan produksi sebelumnya. Hal ini menimbulkan minat dari petani kopi di daerah lain untuk mereplikasi pola tersebut pada lahan kopinya. Berbicara tentang rantai nilai produksi, produksi lebih kecil dengan nilai jual yang lebih tinggi tentunya berpengaruh pada nilai jual olahan kopi yang tentunya jauh lebih tinggi dibandingkan tanpa adanya prosessor kopi.

“Dukungan Pemerintah NTB khususnya Dinas Perindustrian perlu lebih ditingkatkan untuk menjadikan kopi NTB sebagai brand di tingkat lokal, padahal pangsa pasar sangat terbuka, perlu ada rencana aksi yang jelas dengan target yang terukur dalam usaha mengembangkan kopi NTB”, demikian bincang Mas Dodi sembari menyeruput segelas ice lemon coffe di bilangan Gunung Sari yang juga menjadi rumah produksi Etnic Cofee. Peran para pihak yang terlibat belum terkelola dengan baik sehingga rencana pengembangan kopi NTB masih belum jelas arahnya dan kelihatan sporadis. Pembentukan asosiasi penting namun rencana aksi yang jelas menjadi lebih penting. Penilaian yang menarik yang disampaikan oleh Mas Dodi sebagai praktisi kopi yang telah membangun brand kopi NTB dalam 10 tahun terakhir. “Teman-teman praktisi kopi selalu siap bekerjasama dengan Pemerintah dalam menyusun rencana aksi pengembangan kopi NTB, dan dukungan Pemerintah pun harus konkrit khususnya terkait pembiayaan rancangan aksi dalam rencana aksi tersebut” ujarnya. “Jangan hanya numpang nama ketika ada praktisi kopi yang sudah sukses untuk kemudian diakui sebagai binaan Pemerintah, namun tidak pernah memberikan kontribusi nyata dalam aksi kami di tingkat tapak” kritisi Mas Dodi dengan penuh semangat. Hal ini pernah dialami Mas Dodi dalam perjalanannya menginisiasi petani kopi di salah satu kabupaten di Prov. NTB. “Kalo Pemerintah tidak melibatkan Praktisi kopi pun sebenarnya ga masalah, toh kami akan tetap jalan dengan usaha kami, tapi kalo pemerintah mau serius, kami pun siap bersinergi”, demikian ujar Mas Dodi sembari menikmati ice lemon coffe yang terhidang di meja .

Menurut Mas Dodi, selaku praktisi kopi yang boleh dibilang telah menuai kesuksesan di bidangnya, mengembangkan kopi NTB tidak hanya menjadi pekerjaan Dinas Perindustrian saja, pemberian bibit kopi unggul dari dinas terkait pun menjadi penting, tapi sebagai tahap awal, untuk mendukung pengembangan kopi dari berbagai sentra kopi di NTB, yang paling penting menurutnya adalah pembentukan SDM processor Kopi, “Kalo processornya sudah terbentuk dengan standar dan kriteria pengolahan yang jelas, baik di Tepal, Tambora, Santong, Rempek, Sembalun dan daerah daerah penghasil kopi lainnya di NTB, maka enam puluh persen permasalahan kopi di NTB akan teratasi, proses roasting mengisi ruang sebesar tiga puluh persen sisanya bisa diiiniasi melalui pembuatan alat roasting yang sesuai dengan standar pengolahan sehingga ketika disajikan maka kualitas kopi yang dihasilkan akan tetap terjaga” demkian papar wirausahawan muda kopi ini. 

Dilihat dari segi investasi,  menjadi IKM Kopi sebenarnya tidak mahal, cukup dengan modal 200 s/d 300 juta untuk pembelian mesin-mesin roasting dengan kapasitas produksi mencapai 500 kg, keuntungan yang dihasilkan bisa berlipat ganda dengan cepat. Mas Dodi mencontohkan, produksi kopi Etnic Coffee dalam satu bulan mencapai sekitar 500 kg sampai dengan 700 kg jika banyak order dan telah menjadi supplier tetap untuk beberapa coffee shop di Kota Mataram dan sekitarnya. Belum lagi menghitung penjualan ke beberapa manajemen hotel dan toko oleh oleh di Pulau Lombok. Namun masalahnya untuk mendapatkan 500 kg biji kopi yang baik (green bean) saat ini tidaklah mudah, jika hanya mengandalkan kuantitas, kopi NTB banyak produksinya, tapi kalo bicara kualitas sangat jauh dari kata ideal. Kata kuncinya kembali ke biji kopi yang dihasilkan oleh petani kopi yang telah terverifikasi secara baik oleh para prosessor kopi di tingkat tapak. Sebuah investasi yang menjanjikan untuk sebuah komoditas yang dikenal sebagai salah satu kearifan lokal di NTB. (MO).