Mataram – Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Nuryanti, SE., ME, menjadi pembicara utama dalam Seminar Nasional Hari Tani 2024 yang bertajuk “Konstruksi Potensi Lokal Budaya Pertanian dan Peran Pemerintah dalam Mewujudkan Kesejahteraan Petani”. Seminar yang diselenggarakan di Universitas Mataram ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, H. Achmad Ripai, S.P., M.Si, serta akademisi Fakultas Pertanian Universitas Mataram.
Dalam seminar tersebut, para mahasiswa memberikan sambutan yang menggugah, mengakui bahwa kesadaran terhadap nasib petani di kalangan mahasiswa masih tergolong minim, namun ini bukan berarti mereka tidak peduli. “Ini adalah langkah awal kami untuk terlibat aktif dalam mensejahterakan petani,” ungkap salah satu mahasiswa. Melalui seminar ini, mahasiswa berharap bisa lebih memahami peran pemerintah dalam mendukung kesejahteraan petani, khususnya di NTB.
Hilirisasi Pertanian sebagai Solusi
Pada kesempatan tersebut, Nuryanti SE., ME., menyampaikan materi yang menyoroti pentingnya hilirisasi pertanian sebagai solusi dari tantangan yang dihadapi petani di NTB. “Petani kita menghadapi berbagai kendala, salah satunya adalah kesulitan mendapatkan bahan baku seperti pupuk, serta harga jual yang seringkali tidak stabil,” jelasnya. Ia memberikan contoh bagaimana petani jagung mengalami kesulitan dalam memperoleh pupuk, serta fluktuasi harga yang sering merugikan petani.
Solusi yang ditawarkan adalah melalui hilirisasi, yaitu pengolahan bahan mentah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. “Kita tidak harus mengekspor bahan mentah saja. Petani butuh pupuk, kita bisa memproduksi pupuk sendiri. Petani ingin harga jual meningkat, maka kita olah menjadi barang jadi,” tegasnya. Nuryanti juga menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam proses ini. “Mahasiswa adalah kunci dalam upaya mensejahterakan petani. Kita butuh generasi petani milenial dan Gen Z yang paham bagaimana memproduksi pupuk ramah lingkungan dan mengolah bahan mentah menjadi produk jadi,” imbuhnya.
Ia juga menyebut bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai perangkat pendukung, baik berupa alat maupun bantuan lainnya untuk mendukung inovasi mahasiswa dalam sektor pertanian. Nuryanti mengajak para mahasiswa untuk memutuskan fokus mereka, apakah ingin terlibat dalam proses hulu atau hilir dari sektor pertanian.
Krisis Ketekunan di NTB dan Harapan Masa Depan
Selain itu, Nuryanti juga menyinggung krisis ketekunan yang dihadapi NTB dalam sektor pertanian. “NTB ini sedang krisis ketekunan. Kita butuh mahasiswa yang mampu meneruskan sektor pertanian ini dengan tekun dan inovatif,” tambahnya.
Menutup materinya, Nuryanti memaparkan tentang enam sektor prioritas yang menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP) NTB dalam 20 tahun ke depan. Ia berharap, dengan terciptanya ekosistem yang solid, industri besar atau mega industri di NTB bisa terwujud, dan kesejahteraan petani pun bisa lebih ditingkatkan.
