20 September 2021

PENERAPAN TEKNOLOGI UNTUKMENINGKATKAN NILAI TAMBAH PRODUK OLAHAN PORANG DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

Tanaman umbi porang (iles-iles) memiliki banyak manfaat terutama untuk industri dan kesehatan, hal ini terutama karena kandungan zat Glukomanan yang ada di dalamnya. Zat Glukomanan ini bermanfaat sebagai zat pengawet alami, manfaat lainnya sebagai bahan baku dalam industri kertas, sebagai pengikat dalam pembuatan tablet, sebagai media pertumbuhan mikroba dan masih banyak penggunaan lainnya di berbagai industri pangan maupun industri kesehatan.

Guna mendapatkan tepung glukomanan, umbi porang terlebih dahulu diproses melalui beberapa proses sehingga didapatkan tepung yang mengandung glukomanan. Proses tersebut dimulai dari umbi segar hasil panen, pencucian, pengirisan, pengeringan, penggilingan, ekstraksi kimia dan ekstraksi kimia sehingga diperoleh tepung glukomanan. Dalam masyarakat kita pengetahuan mengenai glukomanan yang terkandung dalam umbi porang masih terbatas. Pemanfaatan glukomanan sendiri lebih banyak dilakukan di Jepang. Dan permintaan ekspor tiap tahunnya masih terus meningkat. Glukomanan umumnya dijual dalam bentuk chips porang. Chips porang ini berupa irisan umbi porang yang dikeringkan. Padahal chips porang sendiri dapat diolah kembali untuk menghasilkan tepung porang dengan kadar glukomanan yang lebih tinggi yang tentunya memiliki harga jual yang lebih tinggi pula. Untuk umbi porang segar dijual dengan harga Rp Rp 2.000/kg, sementara untuk chips porang dijual dengan harga Rp 27.000/kg dan untuk tepung yang telah  dimurnikan dengan kadar glukomanan berkisar 60% dijual dengan harga Rp 250.000/kg.

Kondisi di atas menunjukkan bahwa pengembangan budidaya dan pemanfaatan porang ke depan sangat prospektif karena lahan tersedia, terutama di Provinsi Nusa Tenggara Barat sehingga tidak perlu bersaing dengan lahan komoditas tanaman pangan lainnya. Pasar tepung porang juga tersedia, terutama untuk tujuan ekspor di samping pasar dalam negeri seiring dengan meningkatnya kesadaran dan kebutuhan masyarakat terhadap pangan fungsional.

Saat ini, Porang merupakan salah satu komoditi yang sedang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi NTB. Hal ini merupakan upaya pengentasan kemiskinan dan perbaikan kualitas lingkungan di NTB. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat sangat konsen dalam menigkatkan olahan tanaman porang ini untuk dijadikan salah satu industri prioritas yaitu Industri Hulu Agro, yang jika diolah, apalagi dengan penggunaan teknologi permesinan tentunya akan menghasilkan nilai tambah yang sangat luar biasa, salah satunya mie shirataki, yang nilai ekonominya sangat tinggi.

Rancang bangun teknlogi permesinan mulai dari pencucian, pengeringan dan pencacah porang menjadi chip berbasis IoT (Internet of Things) menggandeng beberapa pakar yang bergelut di budidaya porang dan pelaku IKM Permesinan sedang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam rangka menjadikan porang menjadi salah satu komoditi produk unggulan

NTB menjadi produk yang berkualitas dan berdaya saing.

Mesin yang digunakan untuk mengolah yang dipergunakan berupa mesin pencuci, mesin pengiris dan mesin penepung. Melalui UPTD Sains Teknologi dan Industrial Park Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Pemda bersama IKM Mesin di NTB ikut dalam proses pembuatan mesin mesin tersebut. Penggunaan mesin ini akan meningkatkan added value terhadap komoditi Porang sehingga meningkatkan pendapatan petani dan pelaku usaha.

Diharapkan dengan manajemen teknologi yang baik, komoditi Porang dapat berkembang luas sehingga bisa menjadi bagian dari penopang ekonomi masyarakat di NTB.