24 Mei 2024

Tingkatkan kualitas Olahan Kelapa di NTB: Disperin bersama Bank Indonesia NTB Susun Pilot Project

Mataram – Potensi tanaman kelapa yang besar di provinsi NTB telah menjadi atensi Bank Indonesia hingga pemerintah untuk menjadi produk olahan unggulan di daerah NTB. Tanaman kelapa yang ada di NTB masih merupakan kebun rakyat maka harus diterapkan metode pengolahan yang sesuai dengan sistem kebun rakyat tersebut.

Dalam rangka meningkatkan mutu, kualitas dan produktivitas olahan kelapa di NTB, maka BI mengundang praktisi olahan kelapa, bapak Syaukani yang melakukan pengamatan dan evaluasi proses/alur kerja olahan kelapa. Selama 6 hari kunjungan beliau, dua IKM yang didatangi adalah IKM Nadimu (ketua Zaini, alamat Tirtanadi, Korleko, Lombok Timur) dan IKM al Amin (Ketua Zulhadi, alamat Pemenang, Lombok Utara).

Dari hasil kunjungan ditemukan beberapa hal yang mempengaruhi harga minyak kelapa dan VCO yang dihasilkan oleh IKM antara lain panjangnya rantai proses yang dilewati sehingga menyebabkan tingginya ongkos produksi. Selain itu teknis pemarutan, pemerasan dan pengemulsi yang kurang tepat juga menyebabkan rendahnya masa simpan minyak kelapa dan VCO. Selanjutnya penggunaan bahan pengemulsi untuk menarik massa minyak/VCO juga perlu diperhatikan agar produksi menjadi maksimal. Beberapa teknologi sederhana telah ditransfer oleh pak Syaukani dengan prinsip tidak membebani pelaku usaha, dan mudah dipelajari.

Dari sisi quality control harus diperhatikan terutama saat packaging. Jangan lagi menggunakan jerigen kemasan minyak lain untuk menampung hasil minyak kelapa karena dapat mempengaruhi mutu minyak yang dihasilkan oleh IKM. Disampaikan juga bahwa mutu kelapa di NTB sangat bagus dengan rendemen 67%. Hal ini merupakan kekuatan NTB untuk bersaing di pasar global terutama kelapa.

“Disperin telah menginisiasi pengolahan kelapa menjadi minyak dan dikembangkan menjadi VCO, sejak tahun 2019. Selain itu rintisan untuk pengolahan turunan kelapa seperti menjadi briket, arang aktif, dan asap cair telah dimulai dengan pemberian bantuan alat pirolisis kepada petani” Tutur Nuryanti (8/3).

Sinergi antara pemerintah prov NTB dalam hal ini Dinas Perindustrian NTB, Dinas Perdagangan, Bank Indonesia, profesional di bisnis kelapa, serta lembaga pendamping/konsultan diharapkan dapat mengangkat potensi olahan kelapa di NTB.

Sebagai penutup, ibu Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah NTB menyatakan bahwa olahan kelapa akan menjadi skala prioritas di tahun 2024 dan Bank Indonesia sangat mendukung pelaku usaha untuk meningkatkan produknya ke tingkat ekspor, Jumat 8/3/2024.