25 September 2021

Strategi Pengembangan Industrialisasi Garam di Bima

Industrialisasi yang di ikhtiarkan sebagai program unggulan untuk mencapai NTB gemilang semakin digencarkan oleh pemerintah Nusa Tenggara Barat. Industrialisasi yang dimaksudkan adalah dengan mendukung produk-produk yang dihasilkan oleh IKM lokal (NTB).

Salah satu industri potensial yang juga merupakan turunan dari 6 sektor industri prioritas adalah komoditi garam. Berkaitan dengan hal tersebut, Kepala Disperin NTB, Nuryanti, SE., ME menjadi narasumber dalam dalam FGD yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Bima dengan tema Rencana Strategi Pengembanhan Industrialisasi Garam di Bima.

Kabupaten Bima, merupakan kabupaten penghasil garam terbanyak di Nusa Tenggara Barat dan yang kedua adalah Kabupaten Sumbawa. “Garam dari Bima seharusnya bisa mensuplai pasar-pasar yang ada di Nusa Tenggara Barat sendiri.” Ungkap beliau. Dan hal inilah yang saat ini sedang didorong oleh Pemprov NTB dengan bersinergi bersama Pemerintah Kabupaten/Kota, serta dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi dan Kabupaten.

Disperin Prov. NTB merancang pembangunan industri garam di Kabupaten Bima pada tahun 2021, yakni dengan melakukan revitalisasi rumah produksi IKM, bimtek  dan magang industrialisasi garam, fasilitasi halal, merk, dan SNI, serta penerbitan ijin edar BPOM.

Selain itu, agar terwujudnya IKM yang sejahtera dan terwujudnya industrialisasi garam percontohan diperlukan pembinaan kelembagaan industrialisasi yang kuat serta pembangunan gedung dan mesin pengolahan garam.

Diharapkan juga tumbuhnya IKM milenials yang bergelut dalam industrialisasi garam dengan bahan baku yang lebih baik juga punya daya tawar tersendiri di Nusa Tenggara Barat.

Garam adalah salah satu potensi luar biasa yang dimiliki NTB, baik dari sisi bahan baku maupun pasar. Estimasi kebutuhan garam di NTB diukur dari konsumsi rumah tangga, konsumsi industri pangan dan non-pangan, total kebutuhan garam di NTB kurang lebih 46.591,80 ton per-tahun

Potensi luar biasa menuju NTB Gemilang.