5 Maret 2021

Resmikan Program Smart Listrik PLN UIW NTB, Nuryanti: Listrik adalah Penyokong utama Industrialisasi

Bersama PLN Unit Wilayah NTB, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Nuryanti, SE., ME mengunjungi Desa Maringkik, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur, Kamis, 21 Januari 2021. Kunjungan kerja ini dilakukan untuk mendukung sekaligus meresmikan  Program Smart Electricity yang diinisiasi oleh PLN UIW NTB. Program Smart Electricity merupakan program PLN yang mengedepankan pembelian listrik pra bayar (pre paid) yang memberikan kemudahan kepada pengguna untuk menyesuaikan pembelian listrik dengan kebutuhannya. Program ini sangat mendukung untuk pengembangan industri kecil dalam menghitung biaya produksi untuk menentukan harga pokok produksi yang menjadi dasar penetapan harga sebuah produk pelaku IKM di NTB.

Selain memberikan support dan meresmikan program Smart Electricity di NTB, Kepala Dinas Perindustrian NTB juga melakukan kunjungan ke beberapa lokasi industri yang ada di Pulau Maringkik. Pulau yang terdiri dari beragam suku ini memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap hasil laut. Pengolahan produk hasil laut merupakan salah satu skema industri yang bisa dikembangkan di wilayah ini. tentunya dengan bersinergi bersama program Smart Electricity PLN dari Unit Induk Wilayah NTB.

Sebagai wilayah dengan basis pulau, dan meneruskan pameo bahwa nenek moyang kita adalah seorang pelaut, masyarakat Pulau Maringkik memiliki basis usaha perkapalan. Kapal yang dibuat dengan bahan baku kayu ulin (Euxydragelon zwageri) atau yang biasa dikenal dengan nama kayu besi ini mampu bertahan selama 20 tahun di atas air. Keterampilan warisan nenek moyang kita ini merupakan potensi dasar Pulau Maringkik yang dapat menjadi upaya pengembangan industri perkapalan di wilayah ini. Mempertahankan tradisi, sekaligus membuka pengembangan perkapalan di wilayah ini. Wilayah ini telah punya basis usahanya, menunggu sentuhan pihak  terkait untuk pengembangannya. Dari PLN NTB tentu saja telah siap mensuplai elektrifikasi untuk kebutuhan industrinya. Kendala bahan baku kayu Ulin yang masih harus didatangkan dari Kalimantan dan termasuk ke dalam jenis kayu yang dilindungi karena hampir punah pun harus dicari alternatifnya. Agar nantinya, industri perkapalan yang dibangun akan terus bisa berkesinambungan dan berkelanjutan.

Selain mengolah hasil laut dan membuat kapal, penduduk Pulau Maringkik pun melakukan aktifitas industri kreatif dalam bentuk tenun. Pembuatan tenun membutuhkan waktu sekitar 1 bulan sampai selesai untuk satu helai tenun. Demikian penjelasan salah satu penenun yang ditemui oleh tim Dinas Perindustrian Provinsi NTB dalam kunjungan tersebut. Tenun tersebut mengambil motif Sulawesi dan motif Ende sebagai dasar budaya masyarakat Pulau Maringkik. Pembuatan tenun yang masih menggunakan peralatan sederhana pun bisa menjadi salah satu upaya pengembangan industri kreatif untuk memberdayakan perempuan-perempuan di Pulau Maringkik.

Bentuk dukungan dari PLN Unit Induk Wilayah NTB terhadap pengembangan industrialisasi di NTB bersama Dinas Perindustrian Provinsi NTB merupakan salah satu bentuk ruang kolaborasi yang terus dibangun dengan stakeholders di NTB. Tentu, kita masih ingat,  bahwa PLN khususnya PLN Unit Induk Wilayah Bima merupakan salah satu inisiator pengembangan sepeda listrik dengan brand “Matric-B” dan telah memberikan pembinaan kepada 20 IKM permesinan di NTB untuk mengembangkan produksi sepeda listrik di NTB. Kerjasama yang baik untuk mencapai visi industrialisasi NTB Gemilang.

Kunjungan kerja ke Pulau Maringkik ini menyimpan banyak cerita. Kawasan kepulauan dengan luas +/- 6 Ha ini merupakan salah satu fakta bahwa masih banyak sudut NTB yang harus terus digali untuk dikembangkan. Kunjungan ke kawasan pelosok seperti ini harus menjadi budaya baik bagi seluruh pengambil kebijakan di NTB untuk melihat realita terdepan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Bahwa mereka pun adalah bagian dari NTB. Pun pantas untuk mendapatkan perhatian. Untuk terus didorong, dikembangkan dan diajak berlari bersama menuju NTB Gemilang.