2 Juli 2020

Dinas Perindustrian NTB

Industri Bergerak | Ekonomi Meningkat | Masyarakat Sejahtera

Bandar Sambal Lombok: Produk Olahan Lokal, Cita Rasa Global

Siapa di antara kita yang tidak kenal dengan SAMBAL? Irisan cabe, bawang, ketumbar, laos dan variasi bumbu dapur lainnya selalu menjadi menu penyedap hidangan yang disajikan. Mulai dari rumah tangga sampai ke hotel bintang lima. Sambal selalu menjadi menu siap saji yang tersedia di atas meja makan.

Sepertinya, apapun kulinernya, sambal pasti selalu ada. Bahan-bahan yang mudah didapat, proses pembuatan yang cukup sederhana, dan yang paling penting, rasa pedas memikat yang dihasilkan dari produk sambal adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Mak nyus. Meminjam istilah almarhum Bondan Winarno, dalam sebuah acara kuliner di sebuah stasiun televisi swasta beberapa waktu yang lalu.

Berbicara tentang sambal, Provinsi NTB merupakan salah satu daerah yang sangat kaya akan sumberdaya alam rempah-rempah sebagai bahan baku produk sambal. Hal inilah yang menginspirasi seorang Askar DG Kamis untuk memulai menekuni usaha sambal. Bang Askar, demikian kami memanggilnya, menerima kami – tim PPID Dinas Perindustrian Provinsi NTB dalam seri Bincang-bincang IKM di rumahnya yang asri di kawasan Ampenan. Duduk melingkar di atas berugak ditemani dengan kopi hitam yang hangat, kami memulai bincang-bincang kami dengan Bang Askar, founder Bandar Sambal sebuah platform marketplace lokal www.bandarsambal.com

Tinggalkan Gaji Puluhan Juta Demi Keluarga

“Dulu saya professional, fokus pada karir, keluarga dan diri saya sendiri, tidak ada kontribusi pada masyarakat atau pada hal-hal lainnya, hanya kerja kerja dan kerja yang saya pikirkan, sampai suatu hari saya berpikir, let’s try to do something different”, demikian Bang Askar berkisah mengenai latar belakangnya memulai wirausaha sambal. Pada awalnya, ditahun 2016, Bang Askar mencoba menekuni usaha Sambal Belut (Sambal lindung), dikarenakan pada waktu itu sambal belut merupakan salah satu jenis usaha sambal yang cukup populer di Lombok. Berjalan satu tahun, pada bulan Mei 2017, Bang Askar dengan dukungan penuh dari istri dan putra-putrinya mencoba menekuni usaha ini dengan serius dan mengundurkan diri dari jabatan mapannya sebagai salah satu tim eksekutif pada hotel berbintang lima milik salah satu BUMN terkemuka di Indonesia.

Buat sebagian orang, dalam konteks kekinian, fakta ini mungkin adalah sebuah paradoks. Meninggalkan pekerjaan professional dengan gaji dua sampai tiga digit demi berjualan sambal, yang notabene masih dianggap sebagai sebuah usaha sampingan yang belum jelas investasinya. Namun Bang Askar dengan segala kesederhanaannya mengajarkan filosofi khusus terkait hal ini yang bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang. “Alasan utama saya pada dasarnya adalah karena faktor keluarga, anak-anak saya, yang sekarang sudah besar protes, karena pada saat mereka tumbuh, saya sibuk bekerja dan melupakan mereka. Akhirnya sekarang, saya punya anak kecil (bungsu – red) dan saya ingin selalu bersama anak-anak saya. Saya ambil semua resiko, dan saat ini pekerjaan utama saya adalah menjaga anak-anak saya, pagi memandikan mereka, kemudian antar mereka ke sekolah, jam 1 jemput, dan nanti jam 6 jemput mereka pulang ngaji. Itu pekerjaan utama saya sekarang. Segala bentuk rapat dan kesibukan saya tinggal untuk  jemput anak saya. Sehingga saya tahu persis siapa teman-teman mereka, hobi mereka, kesukaan mereka, dan permainan kesukaan mereka, bahkan sekarang saya tahu gigi mereka yang goyang yang mana. Golden time saya yang dulu hilang bersama anak-anak sekarang saya dapatkan kembali.” Ungkap Bang Askar.

“Dulu sewaktu kerja di hotel, semua fasilitas saya dapatkan, semua kemapanan saya pegang, bahkan dulu sewaktu masih bekerja di hotel, cita-cita saya adalah dapat mengantar anak saya ke sekolah, namun sekarang saya mendapatkan Kembali apa yang dulu saya cita-citakan”, demikian ungkap Bang Askar mengenai apa latar belakang sebenarnya memulai usaha sambal tradisionalnya. Sebuah inspirasi positif yang sangat bijaksana di tengah-tengah modernitas yang melingkupi kita selama ini. Sebuah pesan bijak dari seorang eksekutif modern yang rela “berjualan sambal” agar selalu dekat dengan keluarga. Hal ini mengingatkan kita akan tagline sebuah serial yang dulu pernah populer, HARTA YANG PALING BERHARGA ADALAH KELUARGA, OST dari Keluarga Cemara.

Prestasi Bandar Sambal

Mengawali usaha sejak 2016, dan menekuninya dengan sepenuh hati sejak pertengahan 2017, saat ini Bandar Sambal telah menapak jalan yang jelas di sektor wirausaha sambal. Pada tahun 2016, Bandar Sambal masuk ke dalam 100 besar dari BigStart versi marketplace BliBli.com. Dan pada tahun 2017, melalui inisiasi Badan Ekonomi Kreatif RI, Bandar Sambal masuk ke dalam 25 Besar dari sebuah kompetisi startup “Food Startup Indonesia 2017.

Informasi usaha serta produk kami masuk dalam katalog Food Startup Indonesia yang di tempatkan di Istana Kepresidenan RI di Jakarta. Inisiasi ini membuahkan hasil nyata, berupa bantuan permodalan dan permesinan dari BEKRAF RI sebesar lebih dari Rp. 100 juta yang digunakan Bang Askar untuk membeli peralatan yang digunakan untuk mensupport usahanya di bidang sambal yang semakin hari semakin dikenal luas oleh publik khususnya di Lombok dan sekitarnya. 

Brand sebagai Kunci Utama

Menurut penuturan Bang Askar, faktor terpenting dari wirausaha sambal khususnya Bandar Sambal adalah bagaimana membangun BRAND dari sebuah produk, “Di Lombok, siapa yang tidak bisa membuat sambal lindung, semua bisa kan, tapi yang berat justru adalah membangun brandnya”. Provinsi NTB yang sangat kaya akan sumber daya alam ini harus diolah secara kreatif dan menggunakan teknologi industri sebagai penopangnya. Jika hanya berbicara soal industri saja tanpa ada kreatifitas dalam pengolahan produknya, maka tidak akan pernah lahir produk-produk kreatif. Bang Askar mencontohkan, jika kita membeli cabe dan bahan-bahan lain untuk membuat sambal seharga Rp. 45 ribu 1 kg, dibandingkan dengan membuat sebuah produk sambal seharga sama dengan berat 135 gram, tentunya ini akan memberikan nilai tambah yang jauh berbeda hasilnya. Sumber daya kita harus diolah dengan kreatifitas dan teknologi yang tepat, sehingga mampu meningkatkan nilai tambah produk dan dapat bersaing dalam level yang lebih tinggi.

Visi Misi Bandar Sambal

Memulai sebuah usaha rintisan seperti kulinari sambal dengan brand Bandar Sambal, buat seorang professional muda seperti seorang Askar DG KAMIS tentunya tidak mudah, perlu keberanian besar untuk memulainya, perlu semangat tinggi untuk bisa bertahan, perlu strategi yang matang untuk mampu menjalani usaha yang bisa dibilang baru dikenalnya selama ini. Semangat utama Bang Askar adalah berwirausaha dengan prinsip melahirkan bisnis seperti anak sendiri. Jadi, harus mampu survive menghadapi segala bentuk tantangan dan cobaan yang terjadi, dengan harapan positif bahwa apa yang ditekuni saat ini akan memberikan hasil di masa yang akan datang. Sejalan dengan niat tersebut, Bandar Sambal yang dikelola Bang Askar dan istri beliau; Rini Handayani, mengembangkan  strategi yang berbeda dalam pengembangan sayap bisnisnya. Saat ini Bandar Sambal telah mengembangkan semacam market place bagi seluruh usaha kuliner di NTB, selain tentunya menjual produk dengan Brand Bandar Sambal itu sendiri. Produk kuliner dimaksud disini adalah produk kuliner lokal yang dikelola oleh putra-putri NTB sendiri, seperti nasi kuning, catering, segala jenis kue kering dan basah dan berbagai kuliner lainnya yang dikenal masyarakat. “Harapannya, dalam 2 s/d 3 tahun ke depan, market place ini akan kami kembangkan menjadi market place untuk kuliner nasional, dari segi teknologi dan SDM-nya sudah siap, hanya perlu memperkuat brand untuk lebih bisa bersaing di level yang lebih tinggi”, demikian Bang Askar menjabarkan visi terkait usaha Bandar Sambal yang sedang dirintisnya sekarang.

Pentingnya Quality Control

Berbicara soal produk sambal khususnya Brand Bandar Sambal, tentu tidak terlepas dari proses produksi dan pengolahannya. Sambal, sebagai suatu produk kuliner yang akan dikonsumsi publik tentunya tidak bisa dibuat sembarangan saja. Ada filosofi khusus yang dibangun disana, “Kita selama ini hanya berfokus pada keuntungan produk, tapi bagaimana dengan kualitas sambal yang kita hasilkan, itu masih menjadi persoalan”, tutur Bang Askar ketika berbicara tentang filosofi istiqomah dan amanah di balik proses pembuatan sebuah produk sambal. Berkaitan dengan hal tersebut, proses seleksi bahan baku yang diolah sambal sangat diperhatikan oleh seorang Askar DG Kamis dalam memproduksi Bandar Sambalnya. Bagaimana proses memasak sambalnya, berapa derajat panas minyaknya, di mana memasaknya, bahan-bahan apa yang digunakan, berapa level keasaman dari produk sambal yang dihasilkan. Semuanya harus punya standar dan ukuran yang jelas. Hal ini bertujuan untuk membangun standarisasi rasa sambal yang dihasilkan. Hal ini terkait erat dengan filosofi istiqomah dan amanah yang dijelaskan sebelumnya. Tingkat keasaman sambal kami adalah sekitar 4.3 – 4,5, demikian Bang Askar menjelaskan. Hal ini menjadi salah satu standar yang ditetapkan oleh Bandar Sambal untuk menjaga kualitas produk sambal yang dihasilkan. Jadi untuk membangun sebuah standar rasa, itu bukan pada komposisi bahannya, tapi justru pada standard ukuran yang di akui secara internasional seperti standard PH ( tingkat keasaman ).

Integritas Pribadi adalah Kunci Eksistensi Sebuah Produk

Terkait dengan kemampuan dari para pembuat sambal di NTB dan Pulau Lombok pada khususnya, Bang Askar yang juga merupakan pemegang sertifikat Master Trainer Google Gapura Digital ini menjelaskan bahwa integritas pribadi untuk menjaga amanah para pelanggan merupakan salah satu kunci eksistensi sebuah produk sambal bisa diterima di pasar atau tidak. Konsep ini sangat berkaitan dengan integritas dan amanah para pelaku bisnis dalam meracik produk yang dihasilkan. “Pernah saya buat sambal, suatu hari, tersiram oleh air hujan dari talang, saya buang, saya buat baru lagi dari awal, semua untuk menjaga integritas dan amanah tadi. “Oleh karena itu, yang bisa mendapatkan brand Bandar Sambal ya masih produk kami sendiri, yang kami pahami betul proses kurasi dan pembuatannya sampai akhir”, demikian tutur Bang Askar menjelaskan mengenai betapa pentingnya proses kurasi untuk meracik sebuah produk sambal dengan brand Bandar Sambal.

Intervensi Teknologi dan Peran Pemerintah

Proses kurasi merupakan sebuah proses untuk membangun sebuah prosedur terkait dengan peracikan atau pembentukan sebuah produk, dalam hal ini sambal dan produk kuliner lainnya. Untuk menjaga agar proses kurasi ini tetap terjaga dengan baik, dibutuhkan adanya intervensi teknologi yang tentunya tidak sederhana dan membutuhkan proses belajar yang cukup lama. “Itu tantangan bagi pemerintah khususnya Dinas Perindustrian di Kabupaten/ Kota dan Provinsi, yaitu bagaimana membangun sebuah sistem permesinan yang bisa menjamin sebuah produk kuliner khas NTB agar bisa bertahan lama dengan tidak mengubah struktur rasa di dalamnya, juga agar produk kuliner yang dihasilkan memenuhi standar BPPOM, sertifikasi halal dan uji mutu lainnya”, “, tutur Bang Askar penuh semangat ketika kami bertanya mengenai apa peran serta yang bisa dilakukan oleh pemerintah dalam hal pengenalan teknologi pengolahan khususnya untuk kuliner lokal khas NTB.

Introduksi teknologi pengolahan dalam membangun sebuah brand produk kuliner khususnya sambal sangat erat kaitannya dengan ketahanan dan kesamaan rasa yang dihasilkan sebuah produk sambal. Dan hal ini berkorelasi erat dengan kemampuan sebuah produk kuliner khususnya sambal dalam hal pemasaran khususnya di jaringan ritel besar dan skala nasional. Sebuah produk kuliner yang tidak tahan lama dari segi rasa tentunya akan sulit untuk memasuki level pasar yang lebih tinggi. Bandar Sambal sendiri menurut penjelasan Bang Askar telah memiliki kontrak kerjasama dengan Transmast untuk jaringan pemasaran produknya secara nasional, sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan distribusi Transmart di luar pulau Lombok masih belum bisa dipenuhi karena produk Bandar Sambal masih terkendala pada kemampuan produk untuk bisa bertahan lama tanpa mengubah rasa. “Produk Bandar Sambal kalau sudah terbuka, dalam 2 hari harus sudah habis, jika dalam kondisi tersegel dalam suhu ruang, bisa bertahan 21 hari, jika dimasukkan dalam kulkas, dapat bertahan selama 2 bulan dan dalam kondisi beku bisa bertahan sampai dengan 5 bulan. Hal ini menjadi sulit jika masuk ke Transmart, karena SOP mereka, 30 hari sebelum barang kadaluwarsa, sudah harus ditarik”, demikian Bang Askar menuturkan salah satu alasan mengapa produk Bandar Sambal dan produk kuliner khas NTB lainnya masih sulit untuk menjangkau pasar ritel-ritel besar di Indonesia. Sebuah tantangan besar bagi para pengambil kebijakan untuk bersama-sama mencari teknologi dalam peningkatan dan memperpanjang masa kadaluarsa produk kuliner NTB. Pemerintah diharapkan dapat mengakomodir permasalahan ini sehingga ke depannya produk kuliner khas NTB khususnya Sambal dan kuliner NTB bisa masuk ke dalam kancah nasional dan global.

“Selain proses kurasi, produk kuliner, khususnya Sambal, pun harus memperhatikan bentuk pengemasannya dan akses terhadap pasarnya. Hal ini penting, karena kemasan produk harus bisa tampil beda dengan produk lain.

Membangun Market Place Khusus Kuliner NTB

Pada saat ini proses yang terpenting setelah produksi adalah pemasaran (paid marketing) yang membutuhkan dana yang relatif banyak karena proses pemasaran adalah suatu proses yang terus menerus yang harus dilakukan untuk membangun brand awareness dari dari suatu usaha. Diharapkan pemerintah dapat membantu dana pemasaran suatu brand sebagai identitas suatu daerah “pungkas Bang Askar dengan penuh semangat ketika menjelaskan apa peran yang diharapkan dari Pemerintah dalam mendukung usaha sambal dan produk kuliner khas NTB lainnya. Atas dasar semangat itulah, Askar DG Kamis mendesain sebuah market place khusus kuliner NTB dengan domain www.bandarsambal.com. Sebuah model katalog online untuk semakin membuka akses pasar bagi kuliner khas NTB khususnya untuk produk sambal NTB agar semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Berbicara sambal, ternyata tidaklah sesederhana yang kita bayangkan. Banyak kearifan dan filososi yang bisa digali dari produk ini, dan seorang Bang DG Askar menyajikannya dengan penuh kelugasan dan semangat untuk mendorong pengembangan sambal dan kuliner khas NTB semakin populer ke depannya. Sebagaimana rasa pedas nikmat yang dihasilkan dari sebuah produk Bandar Sambal, seperti itulah rasanya ketika berbicara tentang produk sambal NTB bersama Askar DG KAMIS, pemilik brand Bandar Sambal.

Bandar Sambal, produk olahan sumber daya lokal, dengan cita rasa global. (Mo) 

Penulis : Deddy Rahmat

Editor : Azkia Rostiani Rahman

Fotografer : Ita Purnamasari

Lokasi : Rumah Produksi Bandar Sambal, Ampenan, MAtaram